Kasus Bowo Sidik, KPK Limpahkan Manajer Humpuss ke JPU

KPK
Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan tersangka kasus suap yang melibatkan Bowo Sidik dilimpahkan ke penuntut umum.

Jakarta, Posmetro Indonesia – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelesaikan penyelidikan oleh dugaan Manajer Pemasaran PT Humpuss Transportasi Kimia Asty Winasti. Komite anti-komisi juga mendelegasikan kasus ini dan file-file yang tertarik kepada jaksa.

“Pada hari Jumat (24 Mei) para penyelidik mendelegasikan 1 tersangka dan sebuah berkas perkara dalam kasus suap TPK dari sektor pengiriman antara PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dan PT HTK (Humpuss Kimia Kimia) ke Kejaksaan Umum” kata Juru. Berbicara dengan KPK Febri Diansyah, Sabtu (25/5) dalam pernyataan tertulis.

Lihat juga: Diberi Iming-iming Perlindungan, 53 Napi Langkat Masih Buron

Asty sendiri diduga berperan dalam suap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Bowo Sidik Pangarso, PT HTK, agar perusahaannya memperoleh persetujuan untuk menggunakan perahu mereka untuk distribusi pupuk dari PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). ).

Febri mengatakan setidaknya ada 30 saksi yang diperiksa oleh penyidik ​​KPK untuk penyelidikan ini. Dia mengatakan persidangan dijadwalkan akan diadakan di Pengadilan Pusat Korupsi di Jakarta.

Setelah pendelegasian tahap kedua, kata Febri, Kementerian Publik (JPU) akan menyusun dakwaan sesuai dengan hasil investigasi yang dilakukan.

Lihat juga: Diperiksa 10 Jam, Amien Rais Sebut ‘People Power’ Konstitusional

“Selain peran AST, peran pihak lain di perusahaan yang diduga memberikan suap bersama,” kata Febri.

Bowo sendiri, bersama dengan Manajer Pemasaran PT HTK, Asty Winasti dan Indung, ditangkap dan ditunjuk sebagai tersangka dalam kerja sama distribusi pupuk PT PILOG dengan PT HTK.

Rupanya, dia meminta komisi dari PT HTK untuk biaya transportasi yang diterima dalam jumlah US $ 2 per metrik ton. Ada enam kali penghasilan yang konon terjadi sebelumnya di sejumlah tempat sebesar Rp221 juta dan US $ 85.130.

Lihat juga: Sebagian Tersangka Rusuh 22 Mei Preman Bayaran Tanah Abang

KPK mengendus bahwa Bowo juga menerima uang dari dugaan kasus suap koperasi untuk distribusi pupuk. Tim KPK menemukan Rp. 8 miliar tunai di kantor PT Inersia, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Bowo.

Uang dalam jumlah Rp. 8 miliar dalam Rp. 20 ribu dan Rp. 50 ribu dimasukkan ke dalam amplop. Bowo diperkirakan akan menggunakan uang dari 400.000 amplop untuk ‘serangan fajar’ dalam pemilihan umum 2019.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *