Kasus RJ Lino, KPK Sehubungan Dengan Akuisisi QCC di Barata Indonesia

RJ Lino

Jakarta, Posmetro Indonesia – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengkaji proses akuisisi PT Barata Indonesia untuk Quay container crane (QCC) dalam konteks kasus korupsi sistem kontrol memiliki PT Pelindo II, yang telah memikat mantan General Manager RJ Lino ( Richard Joost Lino ).

Untuk alasan ini, komisi yang terdiri dari beberapa komisi memeriksa presiden, direktur PT Barata Indonesia, R. Agus H Purnomo. Dia diinterogasi sebagai saksi terhadap tersangka RJ Lino. Diketahui bahwa PT Barata Indonesia berpartisipasi dalam proyek pengadaan yang mengarah pada kasus korupsi.

“Penyelidik telah memeriksa informasi saksi mengenai proses pengadaan QCC, diikuti oleh PT Barata,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah, Kamis (4/7).

Pernyataan Agus ini melengkapi file investigasi tersangka RJ Lino. Kasus itu sendiri sudah hampir empat tahun sejak RJ Lino ditetapkan sebagai tersangka pada 2015.

Lihat juga: Kandidat PPP Mengakui Penggunaan Suap Romi Untuk Kampanye

KPK sendiri saat ini bekerja untuk mengidentifikasi lebih lanjut kerugian keuangan negara yang diakibatkan oleh korupsi dalam pembelian QCC ini.

Kasus korupsi terkait dengan pembelian QCC di Pelindo II sendiri dimulai pada Desember 2015. Mantan Direktur Utama PT Pelindo II, RJ Lino, didorong oleh perselingkuhan rasial di perusahaan yang dia mengarahkan. KPK menetapkan bahwa Lino diduga telah membeli tiga crane kontainer Quay selama tahun fiskal 2010.

Lino dilaporkan bernama PT Wuxi Huadong Heavy Machinery Ltd. sebagai perusahaan proyek. Penunjukan perusahaan Cina dilakukan tanpa melalui proses lelang.

Lihat juga: Pasang Bendera RMS, Lima Aktivis Ditangkap Tentang Makar

Ia juga diduga melanggar Pasal 2 (1) dan Pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

KPK baru-baru ini muncul sebagai saksi direktur pelaksana anak perusahaan pelabuhan Pontianak PT Pelindo II (Persero) Adi Sugiri.

Beberapa hari yang lalu, agensi yang dipimpin oleh Agus Rahardjo juga mewawancarai sejumlah saksi, termasuk direktur pelaksana anak perusahaan jangka panjang PT Pelindo II (Persero), Drajat Sulistyo dan pakar keamanan. dan Kesehatan Kerja di Sektor Lift dan Transportasi di PT Surveyor Indonesia, Ibnu Hasyim.

Lihat juga: Kasus Suap Untuk Jaksa, Aspidum kejati DKI Diduga menerima 200 juta Rupiah

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *