Musim kemarau Anies Singgung mempengaruhi udara buruk Jakarta

Musim kemarau
Kualitas Udara Jakarta tercatat sebagai yang terburuk di antara beberapa negara lain.

Jakarta, Posmetro Indonesia – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menanggapi masalah udara buruk di ibu kota dengan menjelaskan kondisi iklim di Indonesia yang mulai memasuki musim kemarau.

Menurut Anies, musim kemarau juga berdampak pada kualitas udara di Jakarta, karena volume kendaraan meningkat.

“Kami akan menghadapi musim kemarau dan musim ini telah membantu meningkatkan kualitas udara di Jakarta,” kata Anies di balai kota, Selasa (2/7).

Lihat juga: Harus Siap, Musim Kemarau Tahun Ini Lebih Lama Dari Biasanya

Anies mengatakan volume kendaraan yang besar juga berdampak pada kualitas udara di Jakarta. Karena itu, Anies meminta masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

“Karena itu, saya mengundang penduduk Jakarta dan penduduk Jakarta untuk menggunakan lebih banyak angkutan umum, menggunakan angkutan umum untuk mengurangi emisi udara kami, yang pada gilirannya memperburuk kualitas udara,” kata Anies..

Musim kemarau
Gubernur Jakarta Anies Baswedan

Anies juga meminta masyarakat untuk melakukan uji emisi dan mendorong BUMD untuk mengintegrasikan angkutan umum. Metode ini dianggap efektif untuk membantu memperbaiki polusi udara di ibu kota.

“Lalu akan ada langkah-langkah lain, jika sudah matang, kami akan mengumumkannya nanti. Dalam jangka pendek, kami mengundang semua warga untuk menggunakan transportasi umum. Bukan kendaraan pribadi karena iklim hangat ini akan berlanjut,” pungkasnya.

Lihat juga: Abdullah Hehamahua akan mengadakan Gelar Aksi di MK lagi besok

Sebelumnya, situs pengukuran udara airvision.com menempatkan Jakarta sebagai salah satu kota terburuk dengan kualitas udara atau status yang sangat tidak sehat pada 25 Juni.

Namun, ini diabaikan oleh Penjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan DKI Jakarta Andono Warih. Dia menjelaskan bahwa standar yang digunakan oleh Airvisual adalah standar AS. UU Yang berbeda dari standar yang digunakan oleh Indonesia.

“Sementara itu, standar yang digunakan di Indonesia dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor KEP-45 / MENLH / 10/1997 tentang Standar Polusi Udara Indeks (ISPU) hanya mengatur partikel debu standar PM10,” katanya. Andono dalam keterangan tertulis, Kamis (27/6).

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *