Tag: Saham

Dividen BCA Rp4,6 T Bikin Kantong Duo Hartono Tambah Gendut

Ilustrasi

Jakarta, Posmetro Indonesia — Kekayaan Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono alias Hartono bersaudara, 2 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes 2019 dipastikan bakal kembali meningkat sekitar Rp4,6 T. Aliran dana tersebut merupakan separuh dari total dividen yang dibagikan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kepada pemegang saham.

Berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada hari ini, Kamis (11/4), bank swasta terbesar di Tanah Air itu resmi membagi dividen sebesar Rp340 per lembar saham kepada para pemegang saham. Dividen tersebut merupakan pembayaran bagi hasil kepada pemegang saham atas kinerja perusahaan sepanjang tahun lalu. 

Pada 2018, BCA berhasil meraup laba bersih sebesar Rp25,9 triliun pada tahun lalu. Jumlah laba tersebut meningkat sekitar 10,9 persen dari 2017. Dari jumlah laba bersih itu, sekitar 32,4 persen atau Rp8,39 triliun dibagikan sebagai dividen. Porsi dividen yang dibagikan meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 27 persen terhadap laba bersih. 

Dari total dividen tersebut, sebanyak Rp4,6 triliun mengalir ke kantong Hartono bersaudara selaku pemegang 54,94 persen atau 13,54 juta lembar saham BCA yang dimiliki oleh PT Dwimuria Investama Andalan. Sementara itu, sekitar Rp147,58 miliar dialirkan kepada Anthony Salim yang menggenggam 1,76 persen. Sisanya, sebanyak Rp3,62 triliun masuk kantong pemegang saham masyarakat lain yang menggenggam total saham 43,3 persen.

Lihat juga: Kronologi Uniqlo Soal Tuntutan Upah Buruh di Indonesia

“Dividen itu sudah termasuk dividen interim sebesar Rp85 per saham yang telah dibayarkan oleh perseroan pada tanggal 21 Desember 2018. Sisanya, Rp255 per saham dibayarkan pada Mei 2019,” ujar Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja usai RUPST di Ballroom Hotel Kempinski, Kamis (11/4). 

Menurut Jahja, peningkatan dividen yang berasal dari laba bersih ditopang oleh kinerja bisnis perusahaan, khususnya pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp45,3 triliun atau tumbuh 8,3 persen dari tahun sebelumnya. Pendapatan bunga ditopang oleh petumbuhan kredit yang mencapai 15,1 persen atau mencapai angka nominal Rp538 triliun sepanjang 2018. 

Selain karena pendapatan bunga, terdapat pula pendapatan operasional sebesar Rp 17,7 triliun. Pendapatan dari masing-masing saluran kemudian dikurangi dengan beban operasional.

Berdasarkan catatan Majalah Forbes 2019, kekayaan Robert Budi Hartono telah mencapai US$18,6 miliar. Sementara Micahel Bambang Hartono mengantongi kekayaan sebesar US$18,5 miliar. Kekayaan keduanya berasal dari kepemilikan saham di BCA dan Djarum Group. 

Lihat juga: Arus Kas 4 BUMN Karya Sepanjang 2018 Cukup Positif

Keduanya merupakan orang terkaya di Tanah Air. Diikuti Sri Prakash Lohia dengan kekayaan mencapai US$7,3 miliar, Tahir US$4,5 miliar, Chairul Tanjung US$3,7 miliar, Prajogo Pangestu US$3,5 miliar, Low Tuck Kwong US$2,4 miliar, Mochtar Riady US$2,3 miliar, Theodore Rachmat US$1,7 miliar, dan Martua Sitorus US$1,7 miliar.

Saham Airbus Melompat 2 Persen Karena Boeing Terkapar

Airbus
Ilustrasi.

Jakarta, Posmetro Indonesia – Saham produsen pesawat terbang awal Eropa Airbus SE melonjak 2,3 poin atau 2,01% menjadi 116,88 Euro per saham pada perdagangan di Bursa Prancis, Rabu (13/3).

Lonjakan harga saham Airbus terjadi setelah rival perusahaannya asal Negeri Paman Sam Boeing Company mengalami persoalan berat di Industri penerbangan global.

Dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun, 2 pesawat buatannya yakni jenis Boeing 737 MAX 8 mengalami kecelakaan di 2 lokasi berbeda. Pertama, insiden pesawat jatuh terjadi di Indonesia pada Oktober 2018, tepatnya di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Penerbangan Maskapai Lion Air dengan nomor JT610 itu merenggut 189 nyawa.

Lihat juga: Malaysia Menolak Membebaskan Warga Vietnam, Kasus Kim Jong-nam

Selanjutnya pada Minggu (10/3) lalu, pesawat Ethiopian Airlines dengan tipe yang sama juga jatuh tidak lama setelah lepas landas di Addis Ababa, Ethiopia. Sebanyak 157 penumpang beserta awak kapal dilaporkan tewas.

2 peristiwa itu akhirnya menimbulkan tekanan global yang kuat. Sejumlah negara berbondong- bondong melarang penerbangan dengan pesawat jenis Boeing terbaru tersebut. Sebut saja China, Vietnam, Uni Emirat Arab, dan negara Uni Eropa. Terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengumumkan pelarangan pengoperasian semua pesawat jenis Boeing 737 MAX.

Padahal sebelumnya, AS memastikan tidak akan melarang pengoperasian Boeing 737 MAX, meski didesak berbagai pihak.

Lihat juga: KPU Ajak Jokowi-Prabowo Nonton ‘Suara April’ di Bioskop

Sebagai informasi, harga saham Airbus pada perdagangan saat itu berada di rentang 114,58 Euro – 116,96 Euro. Dalam perhitungan mingguan, harga saham berada di rentang yang cukup lebar yakni, 77,5 Euro – 116,96 Euro.

Dengan kapitalisasi pasar mencapai 90,74 miliar Euro. Saham Airbus telah menghasilkan imbal hasil (return) tahunan mencapai 24,75% dengan rasio keuntungan terhadap harga saham sebesar 29,73%.